Selasa, 13 Desember 2022

Taman Wisata Alam Menipo_Nusa Tenggara Timur

 

TAMAN WISATA ALAM MENIPO

Desa Enoraen Kecamatan Amarasi Timur Kabupaten Kupang


Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki aset alam dan budaya yang kaya. Terdapat 1.192 pulau yang merupakan rangkaian cincin keindahan “ring of beauty”. Dikenal dengan nama Flobamora yang mencakup kepulauan Flores, Sumba, Timor, Alor, dengan segala otentisitas dan keunikannya, baik di daratan maupun perairannya, layak menjadi destinasi kelas dunia. Dengan semua keunggulan itu, kita patut sekali lagi bertanya: mau dibawa ke mana kepariwisataan NTT? Beragam tantangan mewarnai perjalanan menjadi destinasi kelas dunia.

Hal tersebut dibahas dalam buku RING OF BEAUTY EAST NUSA TENGGARA Buku ini mengidentifikasi dan mengeksplor potensi dan kapasitas kepariwisataan TWA Menipo : Keindahan Warisan Amarasi dan juga sekaligus menjawab tantangan dengan membedah langkah-langkah strategis dalam mengelola potensi dan ekosistem pariwisata, mengembangkan kualitas sumber daya manusia, dan memasarkan dengan efektif. Pada halaman 183 dan halaman selanjutnya penulis mengulas beberapa pokok penting dari TWA Menipo yakni luas wilayah, sejarah kepemimpinan wilayah, dan juga margasatwa yang ada didalamnya. Kawasan pulau Menipo di desa Enoraen, kecamatan Amarasi Timur, kabupaten Kupang, semula merupakan Hutan Adat Amarasi dengan luas 571 ha dan dipimpin oleh Raja Veki Koroh yakni pada tahun ±1977. Luas areal hutan menipo yaitu 2.000 ha dengan dihidupi oleh berbagai satwa liar seperti: kerbau, rusa, kus-kus, sapi, dara laut, angsa laut dan lain-lain. Potensi lain dari Menipo adalah pantai pasir putih , rusa dan penyu sisik. Hal ini kemudian menjadi penting untuk dijadikan sebagai kawasan wisata alam melalui surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK,348/MENHUT- II/2010 tanggal 25 mei 2010 dengan luas 2,499,50 hektar. Penulis juga mengulas tentang potensi Alam Menipo yakni : atraksi alam, budaya masyarakat dan kegiatan konservasi penyu. Luas pulau Menipo adalah 600 ha. Pantai di Menipo menjadi tempat perkembangbiakan penyu sisik, dan juga habitat kakatua putih kecil dan jambul kuning. Dari luasan 246 ha terdapat ekosistem savana yang didominasi oleh : jenis lontar ( Borrassus flabelifer), asam (Tamarindus indica), kesambi (schleichera oleosa), dan waru (Hibiscus tiliacius). Adapun hutan mangrove yang didominasi oleh jenis Rhizophora mukronata, Rhizophora stylosa, Ceripos tagal, Bruquiera conyugata, dan Bruquera Exaristata. Penulis juga membahas tentang sebuah desa yang mejadi obyek wisata budaya yaitu desa Enoraen yang letaknya di Amarasi Timur, kabupaten Kupang NTT, yang merupakan penyangga kawasan Konservasi TWA Menipo dibawah pengelolaan Balai Besar KSDA NTT. Mata pencaharian masyarakat di tempat ini adalah petani lahan kering dengan berpendidikan sekolah dasar. Budaya yang terus dilestarikan hingga saat ini adalah tenun , tari tradisional, dan ritual adat setempat. Ada hal menarik yang diulas oleh penulis bahwa larangan penebangan mangrove, dan komitmen menjaga, memelihara serta melestarikan hutan yang ada di wilayah Enoraen yang menjadi kearifan lokal masyarakat desa.

 

Legenda Menifo

Penulis juga menceritakan tentang sebuah kisah kehidupan sepasang suami istri yang menjadi cerita masyarakat Menifo sampai saat ini yaitu nenek (Meni) dan Bai (Fon) yang bermulanya akan pindah ke lokasi yang baru yakni menipo, dan untuk sampai ke lokasi tersebut mereka menempuh perjalanan yang jauh dengan berbagai peristiwa kehidupan mereka, singkat legenda tersebut mereka hidup berdampingan dengan alam yang ada hingga memiliki 2 orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Hingga kedua suami istri ini meninggal dan dikuburkan oleh anak-anaknya di Nuat (gua). Dikisahkan juga bahwa anak laki-laki pertama masuk ke air laut dan berubah menjadi buaya, anak laki-laki kedua pergi ke Taemetan daerah kupang dan anak perempuan mereka pergi ke Sonbai daerah matahari terbit dan menjadi penjaga kusi. Sehingga menjadi kepercayaan masyarakat tersebut jika tidak turun hujan maka mereka bisa bedoa meminta hujan ke penjaga kusi.

 Pelestarian Tenun

Kain tenun menjadi salah satu mahar perkawinan di desa Enoraen, sebagai penunjuk status sosial alat barter, penghargaan bagi tamu, media cerita atau filosofi leluhur, busana keseharian hingga busana pernikahan dan kematian. Dua jenis kain tenun desa tersebut yaitu Buna dan Lotis, dimana proses pembuatannya ada yang menggunakan pewarna tradisional dan juga pewarna sintetik. Warna hitam yang digunakan masyarakat tersebut berasal dari lumpur mangrove dan warna merah dari pohon mengkudu. Adapun motif kain tenun tersebut adalah: kret, ular dan kakatua yang mempunyai filosofi berbeda- beda contohnya motif ular dengan filosofi kisah masa lalu.

Upacara Adat

Aturan adat desa Enoraen misalnya pemanfaatan lingkungan, pertanian, juga kehidupan sosial, upacara adat biasa dilakukan pada saat perkunjungan tamu, kelahiran, pernikahan, kematian, dan juga ada anggota masyarakat yang melanggar aturan. Sesaji yang biasa digunakan adalah: sirih, pinang , babi atau ayam untuk disembelih dalam rangka upacara adat menurunkan hujan di lokasi kumbang air. Pada buku ini lebih khusus bab ini penulis juga mengulas tentang cikal bakal pengembangan wisata TWA Menipo dengan keunikan dan keindahan daerah tersebut menjadi landasan Balai Besar KSDA NTT mulai bekerjasama dengan berbagai pihak misalnya media massa, hingga saat ini berbagai fasilitas telah dibangun dan pada tanggal 14 november 2019 menjadi role model pengelolaan ekowisata berbasis tiga pilar.

Penulis juga menulis kisah dibalik pengembangan pariwisata TWA Menipo

Ibu Beti adalah sosok kepala sekolah SDN Fatufuaf yang memperjuangkan sekolahnya yang akan ditutup karena faktor pendukung yang tidak ditunjang yakni dari segi sarana dan prasarana sehingga membuat para guru dan orang tua siswa hampir hilang harapan, namun berkat kerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam sehingga sekolah tersebut menjadi perhatian khusus dan bertahan lebih lama lagi. Penulis juga menggambarkan ada semangat gotong royong dari masyarakat desa terhadap pendidikan dan kemajuan penerus desa Menipo.

TWA Menipo, menjadi Role Model Wisata Berbasis Tiga Pilar

Sebagian besar wilayah TWA Menipo merupakan pulau kecil dengan luas 571 ha dengan panjang 7,328 meter dan lebar 700 meter. Menurut Weaver (2001) suatu bentuk wisata yang membantu pengembangan belajar berupa pengalaman dan penghargaan terhadap lingkungan, maupun sebagian komponennya di dalam konteks budaya yang hubungannya dengan pembelajaran sehingga pengunjung akan lebih mengenal alam sehingga meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Penulis menjelaskan bahwa untuk mencapai ekowisata yang berkelanjutan maka harus mempunyai prinsip berbasis masyarakat (community-based tourism) agar terciptanya hubungan yang baik antara masyarakat dan pengelolanya. Tiga pilar yang dimaksudkan oleh penulis adalah : pilar agama, adat dan pemerintah. Konsep inilah yang menjadi prinsip berbasis masyarakat dalam pengembangan ekowisata, yang tentunya mempunyai tujuan untuk peningkatan pengelolaan ekowisata di TWA Menipo. Kondisi Fisik Kawasan Potensi Fisik yang dimilik TWA Menipo berupa topografi, tanah dan iklim. Masingmasing potensi meyebabkan keberagaman vegetasi yang hidup di dalam TWA Menipo. Secara topografi TWA Menipo memiliki kontur yang datar dengan ketinggian maksimal 40 mdpl. Kelerengan berkisar antara 0 – 8 %. Adapun jenis tanah yang ada di wilayah tersebut adalah Aluvial dan Kambisol eutrik. Iklim adalah keadaan rata-rata udara yang ada pada suatu daerah dalam waktu yang relatif lama. Iklim merupakan fenomena alam yang dapat mempengaruhi lingkungan geofisik, kehidupan dan manusia. Perubahan lingkungan geofisik akan mengakibatkan berubahnya tatanan kehidupan bagi manusia. Kabupaten Kupang umumnya beriklim tropis dan kering yang juga cenderung dipengaruhi oleh angin dan dikategorikan sebagai daerah semi arid karena curah hujan yang relatif rendah dan keadaan vegetasi yang didominasi savana dan stepa. Iklim di Kabupaten Kupang termasuk iklim kering (semi arid) dengan tingkat kelembaban udara yang rendah. Curah hujan rata-rata di daerah ini selama 10 tahun terakhir dari stasiun Panite adalah 185,33 mm/tahun dan stasiun Oebelo 191,875 mm/tahun dengan hari hujan rata-rata sebanyak 95 hari. Musim hujan terjadi pada awal bulan Desember dan berlangsung hingga bulan maret, dengan puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari.

Analisis Role Model

Penulis membagi dalam 3 model yakni

a. Teknis : BBKSDA NTT memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat dalam pengelolaan ekowisata hingga terbentuk 4 kelompok masyarakat yaitu kelompok wisata, tenun, tani mangrove, seni musik dan tari.

 b. Dampak Ekonomi : BUMdes (Badan Usaha Milik Desa) merupakan salah satu kegiatan usaha simpan pinjam yang telah berjalan sejak tahun 2017 dalam meningkatkan pendapatan masyarakat desa Enoraen.

 c. Dampak social dan Lingkungan. Adanya peningkatan peranan masyarakat dalam peletarian lingkungan di TWA Menipo. Dari penjelasan penulis tentang role model Menipo ada beberapa kebanggaan dan keberhasilan yang dirasakan oleh masyarakat

● Kunjungan kepala BBKSDA NTT ke SDN Fatufuaf yang telah mendapat perhatian khusus dari Dirjen KSDAE Jakarta.

● Dukungan Pemerintah Profinsi NTT

● Festival Menipo dengan berbagai kegiatan : pengembangan ekonomi kreatif, lomba fotografi, pembuatan jalur hijau, dll.

 Akhir dari keberhasilan Menipo adalah ditandai dengan penandatanganan tugu Legenda Menipo oleh Gubernur NTT pada kunjungannya bersama rombongan pada 16 November 2019.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persamaan Linear Dua Variabel

A.        Persamaan Linear Dua Variabel   Persamaan linear dua variabel dapat dinyatakan dalam bentuk ax = b atau ax + b = c, dengan a, b...